K.H. Lukman Hakim, Ph. D : Sertakan Allah Dalam Setiap Aktifitas

Masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad masyarakat biasa menyebutnya sebagai jaman jahiliyah atau jaman kebodohan. Makna jahiliyah pada masa tersebut bukanlah kebodohan dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan. Seperti yang disampaikan oleh K.H. Lukman Hakim, Ph.D dalam acara kuliah umum dengan tema Membangun Kampus Kebangsaan Berbasis Spiritual dan Norma Dalam Menjaga NKRI.

“Jaman jahiliyah jangan dimaknai dengan jaman tanpa peradaban yang maju. Karena pada masa itu banyak juga bangsa-bangsa yang memiliki peradaban yang bagus seperti halnya bangsa yunani,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Ma’had Ali Raudhatul Muhibbin, Bogor di gedung Soetardjo, (9/10).

Dalam ceramahnya K. H. Lukman menyampaikan, jahilah yang dimaksud pada masa itu adalah kebodohan dalam akhlak dan agama. Sehingga menurutnya, segala bentuk pemikiran yang ada pada masa itu semata-mata bersandar pada akal fikiran.

“Hanya saja pada jaman jahiliyah tidak bersandar pada agama, tidak bersandar pada Allah. Pada masa itu pula yang namanya nur atau cahaya ketuhanan sama sekali tidak nampak. Sehingga segala tingkah laku perbuatan pada masa itu hanya berdasarkan nafsu semata,” ujar kyai alumni Tebu Ireng ini.

K.H. Lukman juga menyampaikan, pada jaman sekarang ini sudah seharusnya kita melibatkan Allah dalam setiap sendi kehidupan. Menurutnya, para mahasiswa dan para dosen harus meniatkan diri segala proses pembelajaran dalam rangka menuju pada Allah.

“Jadi mahasiswa saat berangkat kuliah diniatkan menuju pada Allah termasuk dosen. Namun saat orang bertanya mau kemana tidak perlu dijawab mau menuju Allah nanti malah dituduh aliran sesat, cukup diucapkan dalam hati saja,” imbuh Lukman.

Lebih jauh K.H. Lukman menyampaikan, jika semua masyarakat Indonesia khususnya kawula muda selalu menyertakan Allah maka setiap apa yang  dilakukan akan mendapat nur Ilahiah.

“Maka kedepan bangsa kita akan menjadi Indonesia yang bercahanya Indonesia yang Almunawaaroh bukan Indonesia yang nar (api) yang mudah dibakar kaum radikal dengan tujuan memecah belah kerukunan dan kebhinekaan Indonesia,” jelas Lukman

Sementara itu Rektor Universitas Jember Moh. Hasan yang hadir untuk membuka acara mengatakan, sebagai negara berbangsa dan beragama kita harus senantiasa menjaga kebhinekaan. Menurutnya sebagai salah satu perguruan tinggi, Universitas Jember berkomitmen untuk terus menjadi garda harmoni nusantara dalam menjaga kerukunan dan kebinekaan.

“Mari kita bersama kembangkan hidup memamahami segala bentuk perbedaan dan berusaha membangun bangsa Indonesia kedepan menjadi bangsa yang harmonis hidup rukun berdampingan dalam ragam perbedaan,” ujar Hasan.

Rektor juga mengatakan, selama ini Universitas Jember terus berusaha untuk mengawal para mahasiswa agar tidak terjebak dalam faham radikal yang tidak sejalan dengan idiologi Indonesia yaitu Pancasila.

“Kami tidak ingin mahasiswa Universitas Jember sampai terjerumus pada faham radikal yang hingga dengan mudahnya mencelakai diri sendiri dan orang lain atas nama agama. Maka dari itu penting bagi kita untuk saling memahami kebersamaan dalam keberagaman,” jelas Hasan.

Hasan juga mengatakan, kuliah umum ini merupakan kegiatan yang sangat strategis dalam membina mental kebhinekaan mahasiswa.

“Untuk masalah agama sudah jelas aturannya lakum dinukum waliyadin.Namun dalam kemajemukan mari kita kelola dengan baik. Mari kita sadari bersama bahwa bangsa Indonesia besar dari perbedaan,” pungkas Hasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *